Mendidik Tanpa Meninggalkan Kenangan Buruk

Posted on

Sedikit nyentrik dengan judul nya, ada embel-embel kenangan buruk. Seperti orang yang lagi putus cinta aja tapi yang putusnya karena diselingkuhin de el el lah.

Mendidik mempunyai tujuan yang hampir sama dengan membimbing bedanya mendidik itu punya banyak cara, boleh dengan membimbing dan bisa juga tanpa membimbing. Sebagai seorang guru pasti tidak asing dengan kata mendidik dan membimbing. Alasan mendidik selalu jadi alasan utama ketika memberikan perlakuan kepada anak. Namun yang harus sangat disadari ketika mendidik ada hal yang terkadang dapat berakibat di masa depannya, seperti trauma yang menjadikannya kenangan buruk di masa depan.
Memarahi anak dengan tujuan mendidik mungkin terdengar baik namun tentu tanpa harus ada kata-kata buruk atau perlakukan fisik yang bisa membuat anak memiliki kenangan buruk. Bahkan yang lebih parahnya lagi jika kenangan buruknya menjadi trauma yang dapat membangkitkan emosi yang meledak-ledak akibat di masa lalunya anak benci dengan perlakuan tersebut tapi tidak bisa melawan. Beruntung jika si anak bisa meluapkan kemarahannya dengan benar sehingga emosinya terlepas dengan baik dan akibatnya emosi batin yang diderita perlahan-lahan mulai hilang, namun jika hal itu terjadi bertahun-tahun bahkan ketika sudah berkeluarga bisa menjad hal yang turun menurun. Sebagai orang dewasa kita perlu menyadari ini sedini mungkin.
Perlakukan anak sebagaimana mestinya. Masa bermainnya, masa tertawanya, masa bersendaguraunya bukan menjadi hal buruk untuknya jika kita memahami.
Bukankah kita pernah merasakan menjadi anak kecil? Masih ingatkahkita siapa orang yang tidak menyukai kita di waktu kecil? Atau guru yang suka marah?
Sedikit banyak pasti ada yang kita ingat, bahkan saya sendiri masih ingat ketika pipi saya di cubit guru karena bermain kertas yang kalau di lipat di hentakkan di udara bisa mengeluarkan bunyi yang kencang itu, padahal bukan hanya saya yang bermain tapi yang di cubit saya.keselkan?
Semua butuh ilmu semua butuh pemahaman, menjadi orang dewasa adalah tantangan yang harus di hadapi. Lah dewasa kok tantangan? Iya, hampir banyak orang dewasa yang tidak bisa dijadikan contoh oleh anak-anak. Sikap buruk dan perkataan yang tidak baik terkadang banyak keluar dari mulut orang dewasa. Banyak buku-buku teori pengembangan diri yang beredar, namun sedikit yang menerapkan.
Ketika marah, diam sejenak tarik napas setelah kemarahan reda baru dekati anak dan jelaskan alasan mengapa hal tersebut tidak boleh. Sama seperti orang dewasa anak kecil tidak bisa dibentak, tidak bisa dimarah, otak mereka hanya mampu menerjemahkan kasih sayang dalam bentuk kebaikan. Dan hal tersebut berarti kita sedang memberikan kenangan terindah untuknya. Hidup menjadi anak kecil, dengan kepolosan, dengan segala ketulusan tanpa bermain topeng adalah keindahan yang Tuhan ciptakan sesempurna mungkin. Mereka adalah tempat kita belajar saat masa dewasa ketulusan sesuatu yang di hargai dengan materi, kepolosan menjadi sesuatu aneh ketika topeng menjadi tameng menutupi segala kesalahan. Sekali lagi beri ruang anak untuk membuat kenangan baik tentang kita, tanpa mennganggap mereka sebagai sesuatu yang belum mengerti apa-apa. Mereka berhak mengerti sesuai dengan penjelasan kita, jadikan mereka cerdas, bukan dengan mematahkan rasa ingin taunya. Anak-anak, kalian anugrah terindah yang pernah Tuhan titipkan pada orang dewasa.

Baca Juga  6 Hal yang dapat Mempengarui Pikiran Kita

2 thoughts on “Mendidik Tanpa Meninggalkan Kenangan Buruk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *