Menjadi orang tua memang tak pernah ada sekolahnya, namun belajar menjadi orang tua bukan hanya kewajiban mereka yang sudah berumah tangga, tanpa terkecuali mereka yang masih sendiripun alias jomblo alias sengaja men-solitary-kan diri  harus tetap belajar menjadi orang tua.

Hal yang terkadang kita luput dari perhatian kita adalah cara ketika kita menghadapi anak-anak, mungkin terkadang kita lebih berpikir bahwa anak-anak hanyalah makhluk kecil yang hampir sama seperti gelas kosong. harus diisi tanpa pernah memikirkan apakah mereka protes atau tidaknya.

Anak-anak, laksana sebuah kertas yang kita tulis menggunakan pena atau sejenisnya, namun mereka punya hak untuk menghapus tulisan dan menuliskan kembali dengan tulisan mereka. Tapi siapa sangka kita terkadang mengabaikan psikis anak-anak demi kepentingan kita, demi kebanggaan atas citra diri untuk mendapatkan anggapan bahwa kita memiliki anak yang cerdas, anak yang pandai dan anak yang berprestasi.

Semester pertama di tahun pelajaran ini telah berlalu, kita telah siap dengan semester genap yang penuh dengan tantangan, iya  harus siap menghadapi ujian. Lelah liburan mungkin belum hilang di pikiran anak-anak, namun konsentrasi buguru mau tidak mau harus terganggu dengan tingkah seorang anak didik buguru.

Sebelumnya buguru ingin bercerita tentang riwayat si fulan (bukan nama sebenarnya).

Secara akademis si fulan tidaklah seperti anak-anak lainnya, si fulan lebih senang bermain saat belajar. Sulit memahami pelajaran dan selalu tidak pernah fokus dalam belajar, saat awal semester ganjil, orang tua si fulan sudah bertemu buguru dan mencerita tentang si fulan.

Buguru selalu optimis dengan perubahan anak-anak buguru. Mulai dari sikap hingga kecerdasan anak-anak.

6 bulan bukanlah waktu yang sebentar, buguru membuat parameter perubahan si fulan, ada beberapa hal yang telah dialami si fulan dan itu membuat buguru senang, semisal yang awalnya kesulitan perkalian dan akhirnya sudah mulai bisa menghitung perkalian dari 5-10, Hingga hitungan lainya. dan untuk ilmu yang sosial lainnya si fulan awalnya tidak suka membaca, sehingga setiap buguru menyuruhnya membaca dan meminta untuk menjelaskan ulang apa yang dibaca, si fulan hanya tersenyum dan seperti takut untuk bicara, namun beberapa bulan si fulan sudah mulai berani bercerita.

Baca Juga  Menulis Catatan Harian

Beberapa bulan lalu mungkin buguru sudah tau tentang latar belakang fulan dan keluarganya. Hingga banyak hal yang buguru lakukan saat menangani anak ini, mulai dari konsultasi pada orang yang menurut buguru bisa memberikan saran.

Dua pekan setelah liburan semester ternyata buguru mendapatkan masalah lagi pada si fulan, semangat belajarnya kembali menurun dan mulai tidak fokus, bahkan wajahnya bisa saja memandang buguru saat menjelaskan namun matanya seperti kosong. Buguru memanggil si fulan setelah jam pulang sekolah, ternyata ada hal baru yang didapatkan buguru, hasil evaluasi semester 1 si fulan mendapatkan peningkatan nilai, tapi tetap saja anak yang lain nilainya lebih tinggi dari fulan. Akibatnya si fulan mendapatkan kemarahan dari orang tuanya.

lalu apa yang terjadi,  si fulan kembali seperti semester pertama bahkan lebih parah lagi, si fulan tidak mau menjawab pertanyaan buguru, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Selalu menunduk, namun matanya berkaca-kaca, dengan berbagai bujukan tetap saja si fulan tak mau menceritakan hingga buguru berkata akan bertanya langsung pada orang tua dan saat itu juga ketakukan si fulan semakin menjadi dan memohon buguru agar tidak bertanya kepada orang tuanya. Akhirnya si fulan menceritakan apa yang sedang terjadi, si fulan sering dimarah bapak.


buguru berusaha mencari kemarahan bapaknya, dengan menebak-nebak apa yang terjadi

Buguru : kamu jam berapa main kalau pulang sekolah?

Fulan : Jam 1 bu.

Buguru : kamu tidak tidur siang?

Fulan : iya bu.

Bguru : ibu tau sekarang apa penyebab kemarahan bapak kamu. Bapak kamu sudah perhatian dan peduli dengan kamu, bahkan sampai di les kan private hanya untuk supaya kamu bisa mendapatkan nilai yang baik dan menjadi apa yang kamu cita-citakan. Sehingga bapak kamu menjaga kamu agar kamu punya jam belajar. Karena kalau sudah capek main, maka kamu akan malas belajar malamnya. iya kan?

Baca Juga  Jadilah Terang dalam Gelap

Fulan : iya bu.

Buguru : oke, bisa kerjasama dengan ibu? Bisa bantu ibu?

Fulan : iya bu

Buguru : pulang sekolah ini, kamu jangan main dulu, langsung ganti baju, makan, sholat dan tidur siang. Besok ibu tanya kamu.

Fulan : * cuma bisa memandang buguru.

Buguru : Nanti ibu akan tanya mama kamu, apakah benar kamu sesuai dengan apa yang ibu suruh .

Fulan : iya bu.*lagi-lagi dengan rasa takut


Percakapan siang itu berakhir dengan kata “iya bu” dari si fulan.

Keesokan harinya, sebelum buguru bertanya, si fulan sudah menjelaskan kalau dia sudah melakukan apa yang di minta buguru. hingga beberapa hari tanpa sempat buguru tanya kan.

Suatu ketika, di pelajaran matematika, si fulan kesulitan dalam membagi. buguru meminta si fulan untuk menuliskan pembagian 1-10, dan di jadikan PR. dalam waktu 3 hari.

Sebenarnya buguru memintanya mengumpulkan di hari jumat namun di hari kamis sudah selesai dan buguru menguji apa yang di tuliskannya.alhamdulillah si fulan mampu menjawabnya, bahkan teman sebelah si fulan sampai kaget ketika si fulan menjawab benar. Bahkan sudah tidak merasa takut lagi untuk menjelaskan kesulitannya.

Semoga kali ini perubahan si fulan berhasil dan tidak kembali seperti semula lagi.

Anak-anak selalu percaya dengan apa yang di katakan buguru. Bahkan kita sendiri ketika masih usia sekolah dasar, pernah bilang “buguru bilang begini ma, buguru bilang begitu”. seolah yang paling benar menurut mereka adalah perkataan bugurunya. Membangun kedekatan emosional adalah hal yang terpenting dalam menghadapi berbagai tingkah laku anak. Peka terhadap keluhan anak, dapat membangun rasa percaya diri anak. Anak merasa ada yang mengayomi, anak merasa ada tempat yang bisa mereka percayai. Buguru hanya bisa membantu agar anak mendapatkan kepercayaan dirinya dengan semestinya.

Baca Juga  Kreasi barang sita an

Dan ketika kita menjadi orang tua, jadilah sebaik-baiknya penyemangat dan tempatnya bercerita, anak punya kecerdasannya masing-masing. Memaksa anak hanya akan menyiksa psikis, dan tentu saja akan berakibat dalam belajarnya. Solusi lainya orang tua bekerjasama dengan buguru dan pak guru, demi tujuan bersama, menjadikan anak lebih baik dan tingkah laku dan kognitifnya,

Semoga dengan hal seperti ini buguru semakin banyak ingin belajar. Anak adalah anugrah, mereka adalah ladang pahala untuk kita, doa mereka adalah doa yang tidak tertolak. Semoga kita selalu menjadi ingatan baik bagi anak-anak.

One Reply to “Anakku si Kertas Kosong”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *