“Ukuran Kekuatan seseorang bukanlah kekuatan ototnya, melainkan fleksibilitas dan adaptabilitas.”  (Debabish Mridha)
Aku mengutip sedikit kata motivasi dari sebuah buku Unleash The Real You. Kalimat tersebut membuat aku tertarik pada kata fleksibitas dan adaptabilitas. Loh? Ada apa dengan kata tersebut?. Kalau dibaca mungkin sedikit ribet ketika dibaca namun ketika dipahami dengan seksama, ada sesuatu hal yang mendalam ketika seseorang merenungkannya dan mengasosiasikan kata tersebut dalam kehidupannya. Sedikit ilmiah kata-kata aku kali ini, maksudnya menghubungkan kata-kata tersebut dengan apa yang telah dilaluinya.
2017, tahun yang menurutku penuh dengan kesedihan, tahun ini aku terlalu banyak mengeluarkan air mata, bahkan hormon kortisolku mendadak tinggi hingga aku tak mampu mengontrolnya.
Tahun ini, aku merasakan kehilangan. Bahkan bertubi-tubi. Mulai dari sanak saudara hingga bapakku sendiri. Ketika menuliskan ini, otakku seperti dilanda amnesia sementara, aku hanya ingat bulan juni dan setelahnya, sebelum bulan itu aku lupa apa yang telah aku lalui. Otakku seperti hanya terekam tentang kesedihan. Aku lupa, dan aku benaran lupa hal apa yang membahagiakan di tahun ini namun aku tetap harus bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan untukku. Aku pun akhirnya membuka kembali sosial media sesuai tanggal sebelum bulan juni. Ada banyak yang bisa aku syukuri ternyata.

Tahun 2017, Tahun duka 
Seperti itu aku menyebutnya, tahun dimana aku harus punya kemampuan fleksibitas dan adaptasibiltas, iyaaa. Kemampuanku untuk menerima dan beradaptasi dengan perubahan.
Aku tau jelas, Allah hanya akan memberikan ujian pada manusia sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri, karena Allah lah yang maha tau atas hidup manusia. Namun sebagai manusia aku masih rapuh untuk menghadapinya. Dan aku masih terkadang protes, bahkan bertanya-tanya dalam hati kenapa begitu kenapa begini. Namun aku harus keluar dari zona ini, zona kesedihan yang sedang mengekang kebebasan pikiranku. Karena aku tau, kalau bapak tau aku seperti ini, bapak pasti tak akan suka.
Untuk beberapa bulan otakku seperti kosong, bahkan aku merasakan banyak perubahan dan yang paling nampak jelas, aku menjadi tidak peduli dengan keadaan. Aku seperti menganggap orang lain tak mengerti tentang rasa sedih yang aku alami. Ini benar-benar harus aku dilalui.

Baca Juga  Nostalgia Foto Kenangan

Allah maha baik, Allah maha tahu.
Hanya Allah yang tau apa yang sedang aku rasakan, Allah kirim orang-orang yang melalui perkataan dan kepedulian mereka membuat aku pelan-pelan kembali seperti semula. Walaupun aku sempat merasakan sakit kepala dalam waktu lama, kata dokter aku sakit karena tekanan, sejenis psikosomatis lah, sakit akibat pikiran yang efeknya aku seperti sakit fisik. Walaupun begitu, badai pasti berlalu dan pelangi akan selalu hadir setelahnya. Aku percaya itu.

Pelajaran Terindah Tahun ini
Pada dasarnya, di dunia ini tak ada yang ditakdirkan untuk saling memiliki, semuanya hanya untuk saling dititipkan. Bahkan aku pun juga satu diantara banyak titipan. Akupun bisa sewaktu-waktu pergi sama seperti orang-orang yang aku tangisi, tentunya hanya masalah waktu. Walau kadang aku takut akan bekal yang aku bawa nantinya, namun nantinya mau tidak mau, siap tidak siap kita juga akan meninggalkan dunia ini. Terima kasih 2017, kau memberiku banyak pelajaran, kesabaran bahkan ketabahan yang tak pernah ada di pikiranku sebelumnya namun aku harus melaluinya.

Harapan di tahun 2018
2017 sebentar lagi berlalu, kalender di rumahpun tak lama lagi berganti. Beberapa hari menjelang 2018, aku menyiapkan 20 resolusi yang harus aku capai di tahun 2018, beberapa resolusi ada yang lanjutan dari tahun 2017. Aku berharap apa yang aku target kan di tahun 2018, Allah mudahkan untuk mencapainya. Tentu saja biiznillah. Semoga kesedihan kemarin, hikmahnya membuat aku semakin mejadi pribadi yang lebih sabar, sabar akan ketentuan Allah. Aaamiiin

 

4 Replies to “Ada yang Hilang di 2017 Ada Harapan di 2018”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *